satu hal untuk video ini
W A J I B D I T O N T O N U N T U K K A M U Y A N G A.R.M.Y
Eh,,,,, Yaolohhhhh.... Abang gue cogan bangeeeetttttttt...... Belum lagi suaranya..... aduuhhh, berasa terpanggil pas ngomong "i'm sorry my sister" KYAAAAAAA!!!!!!!
#Sorry telat#aku udah nonton sejak lama#ini cuman buat ngisi blog
#3 Stigma
Indonesia itu..
Sesuatu yang bisa kusebut 'rumah'. Tempat dimana mataku mulai berbinar untuk pertama kalinya melihat indahnya dunia. Tempat dimana aku pertama kali dengan tatapan malu-malu berkenalan dengan sesorang yang sekarang menjadi sahabat. Tempat dimana aku pertama belajar tengkurap, duduk, berdiri, melangkah, berjalan, berlari, tertawa, menangis, tersenyum, sedih, bahagia, semua hal yang kurasakan.
Indonesia adalah negeri dimana kau bisa merasakan bahwa semua orang adalah keluarga. Dimanapun kau berada, diujung paling timur, atau ujung paling barat, merekalah keluargamu, tempat yang akan selalu kau rindukan. Mungkin bila dilihat secara fisik memang tak sebagus negara lain, namun, apakah sesuatu yang indah, yang mewah, itu menjamin sebuah kebahagiaan? Dimana biasanya terdapat satpam si suatu rumah? Tentu di rumah yang mewah. Rumah yang kecil dan sederhana, akan terasa lebih aman, tidak perlu was was setiap malam
Bagaimanapun alasannya, Indonesia adalah yang terbaik bagi saya. Sebuah band, yang melakukan tur keliling dunia, setiap datang ke suatu negara ke negara yang lain, pasti mereka dijamu dengan sebuah kue pesta yang sangat indah lengkap dengan hiasannya. Namun, ketika mereka datang ke Indonesia, apa yang mereka dapatkan? Mereka mendapatkan tumpeng nasi kuning. Mungkin bisa menjadi sesuatu yang diremehkan, karena hanya memberi tumpeng yang notabene murah harganya. Tapi, bukankah kita seharusnya bangga akan hal itu? Itu menjadi ciri khas negara kita bukan? Seorang tamu, siapapun itu, akan selalu dijamu layaknya sebuah keluarga. Sesuatu yang selalu kita panggil rumah
Indonesia itu...
Merdeka itu...
Merdeka, menurut saya, adalah bebasnya sesuatu yang selama ini masih membelit kita, atau sesuatu yang kita tidak sukai. Tapi, secara personal, sebenarnya saya tidak merasa ada yang membebani kehidupan saya selama ini, tapi saya akan cerita sedikit tentang arti merdeka menurut saya.
Saya, notabene yang masih SMP, pasti sedang dalam perjalanan menuju remaja, dan kadang terjadi pemberontakan tersendiri. Kita sering berbeda pendapat dengan orang lain, sering memberontak, dan mudah marah. terkadang masalah kecil dibesar-besarkan. Dan mudah mengeluh dan menggerutu bila sekali disuruh oleh orang lain. Bahkan, jika misalnya selesai Ujian, lalu akan libur, pasti semua berkata 'sudah merdeka'. Perkataan seperti itu terlihat bahwa Ujian adalah sesuatu yang mengerikan dan menjadi beban.
Saat sedang banyak tugas, atau ulangan, kita juga berkata belum merdeka. Ini terlihat bahwa hal-hal yang selalu dihadapi oleh para pelajar kebanyakan adalah hal yang tidak disukai. Apalagi ketika masa remaja seperti ini, biasanya dalam masa labil, sehingga menjadi sulit diatur dan mudah memberontak.
Saat sedang banyak tugas, atau ulangan, kita juga berkata belum merdeka. Ini terlihat bahwa hal-hal yang selalu dihadapi oleh para pelajar kebanyakan adalah hal yang tidak disukai. Apalagi ketika masa remaja seperti ini, biasanya dalam masa labil, sehingga menjadi sulit diatur dan mudah memberontak.
Atau dalam lingkup yang lebih besar. Di masa globalisasi ini, Indonesia masih dijajah oleh bangsa barat. Seperti penggunaan gadget yang berlebihan di Indonesia. Atau pengaruh budaya negatif bangsa barat yang melanda kaum remaja. Indonesia secara diam-diam belum merdeka.
Mungkin itu salah satu arti merdeka bagi saya, sekian bila ada salah kata
Merdeka itu...
Saya mengerjakan hal ini hanya untuk tugas, tapi saya sangat senang dengan hal ini. Saya akan menceritakan awal saya masuk ke Bhawara.
Saat itu kira-kira tanggal 13 Juli, 2 tahun yang lalu. Saya diterima di Bhawara, yang ingin tahu apa itu bhawara silahkan cari sendiri. Saya, yang merupakan pindahan dari luar kota, tentu saja ingin memasuki SMP negeri. Salah satu sodara saya menyarankan agar masuk ke Bhawara, karena dia alumni disana, dan berkata, bahwa sekolahnya bagus. Saya waktu itu sangat bahagia bisa masuk Bhawara. Pada saat itu, rasa bahagia saya hanya sebatas karena bisa meringankan sedikit beban orang tua, karena tidak masuk swasta.
Tapi, seiring berbulan-bulan di Bhawara, saya merasa nyaman disana. Guru2 sangat ramah, dan teman2nya sangat bersahabat. Tetapi, saya merasakan bahwa kelas 8 lebih menyenangkan dibanding kelas 7 atau 9. Mungkin, saat kelas 7 kami masih dalam proses beradaptasi, dan kelas 9 sudah harus fokus UN
Terlebih dari semua itu, Bhawara adalah sekolah yang disiplin dan religius. Dengan slogan 'tiada hari tanpa prestasi'
Saat itu kira-kira tanggal 13 Juli, 2 tahun yang lalu. Saya diterima di Bhawara, yang ingin tahu apa itu bhawara silahkan cari sendiri. Saya, yang merupakan pindahan dari luar kota, tentu saja ingin memasuki SMP negeri. Salah satu sodara saya menyarankan agar masuk ke Bhawara, karena dia alumni disana, dan berkata, bahwa sekolahnya bagus. Saya waktu itu sangat bahagia bisa masuk Bhawara. Pada saat itu, rasa bahagia saya hanya sebatas karena bisa meringankan sedikit beban orang tua, karena tidak masuk swasta.
Tapi, seiring berbulan-bulan di Bhawara, saya merasa nyaman disana. Guru2 sangat ramah, dan teman2nya sangat bersahabat. Tetapi, saya merasakan bahwa kelas 8 lebih menyenangkan dibanding kelas 7 atau 9. Mungkin, saat kelas 7 kami masih dalam proses beradaptasi, dan kelas 9 sudah harus fokus UN
Terlebih dari semua itu, Bhawara adalah sekolah yang disiplin dan religius. Dengan slogan 'tiada hari tanpa prestasi'
Kesan dan pesan selama menjadi keluarga besar Bhawara
Kembali
Prolog
Kau tahu?
Dipinggir kota, Seoul, selain kesibukan kota yang
maju di Asia itu terdapat salah satu kawasan kumuh tempat daerah dimana
kemiskinan yang selalu mencekik orang yang tinggal. Bangunan disana sudah tua
dimakan usia. Dan cat putihnya pun sudah banyak terkelupas. Dan jikalaukau
menyisir ribuan bangunan itu, maka kau akan mendapati bangunan berlantai 4
bercat putih, bangunan yang sangay besar, sangat jarang ditemukan di daerah
tersebut. Letaknya ada di ujung jalan dan dibelakang bangunan tersebut ada
pohon sakura yang tingginya hampir bersanding dengan gedung tua itu. Gedung itu
adalah bekas apartemen yang tidak lain dan tidak bukan sang pemilik sudah
dipanggil yang Maha Kuasa dan tak ada anak yang mewarisinya dan jadilah gendung
itu kosong tanpa tulisan ‘kontrak’ ataupun ‘jual’ dengan pintu yang terbuka
lebar seakan mengundang bagi yang melihat untuk mendengarkan kisah memilukan
dari apartemen itu.
Tak banyak yang tau. Jika kau ingin ceritanya maka
kau bisa bertanya pada nenek Jin Ah yang sering menenun 2 meter dari apartemen
itu. Kau harus bersabar saat menghadapinya karena bisa-bisa kau meneriakinya
sampai satu kota mendengar ucapanmu. Tenanglah, bagaimanapun juga ia takkan
mendengarnya. Abaikan nenek Jin Ah dan sekarang akan ku ceritakan kisah
apartemen ini.
Apartemen ini dibangun tak lama setelah Ame, sang
pemilik berkebangsaan Jepang, ditinggal meninggal suaminya setelah baru 4 bulan
ia menikah. Belum mempunyai anak, ia yang tipikal orang disiplin, bekerja keras
untuk membangun sebuah apartemen dari tanah peninggalan suaminya. Dahulu,
suaminya mempunyai tanah yang cukup luas yang hanya digunakan untuk membuat
warung makan yang sangat kecil. Apartemen itu selesai dalam waktu yang cukup
lama. Dengan memanfaatkan daerah yang dekat dengan beberapa universitas,
apartemen itu disewakan dengan harga yang relatif murah. Jadi, tak heran disana
banyak ditempati oleh mahasiswa dan para perantau dengan usia rata-rata 19
tahun. Apartemen itu penuh dalam waktu singkat. Apartemen ini, diberi nama
Lily, khusus untuk perempuan karena bagi Ame yang suka kebersihan dan baginya
anak laki-laki sangat jorok dan pemalas dan itu akan membuatnya kesulitan.
Menurut nenek Jin Ah, dahulu daerah ini, setelah
berbulan-bulan apartemen dibangun, sangat ramai dan banyak sekali rumah makan,
toko buku, dan perlengkapan kuliahan lainnya disekitar sini. Daerah ini tak
pernah sepi. Tetap hidup sepanjang hari, sampai tengah malam. Tak tahu apa yang
menyebabkan keramaian itu. Anak perempuan dengan usia remaja seperti itu dan
banyak diantaranya dengan kondisi perantauan mungkin dapat menyebabkan
keramaian?
Abaikan tentang itu sekarang mari kuajak untuk masuk
kedalam. Masuk dari pintu kita akan disuguhi 2 buah sofa panjang dan 1 buah
sofa kecil dengan beberapa kursi yang ditaruh beserakan. Beberapa piring yang
belum dibersihkan, serta kardus dan gulungan pita menghiasi meja yang
dikelilingi sofa-sofa. Meja itu terdapat bunga plastik bewarna merah yang ditaruh
dalam vas bening –yang anehnya masih bening diatas taplak coklat muda. Jalan
sedikit lagi, kita akan menemukan meja yang cukup tinggi seperti meja
resepsionis dan disana ada setumpuk kertas, mungkin dokumen. Dan jangan coba
untuk ingin tahu kertas apa itu, akan kujelaskan alasannya nanti.
1 lantai itu hanya terdiri dari ruang tamu saja,
beserta 1 kamar mandi, dan ruang cuci dibelakang. Jika kau naik ke lantai 2,
maka kau akan melihat meja makan yang cukup besar, bisa muat 20 orang lebih.
Meja makan itu masih rapi, hanya tertutup taplak putih yang sudah merubah
warna. Lalu disana ada ruang musik, mungkin sang pemilik, Ame, adalah orang
seni. Disana terdapat piano, cello, gitar, dan anak setumpuk buku-buku yang
dibiarkan berserakan. Aku sudah pusing melihatnya saat aku masuk ruangan.
Di lantai 3 adalah ruangan penghuni, sebagian besar
penghuni, dan sebagian kecil ada di lantai 2. Dan lantai 4 adalah rooftop yang
sering digunakan untuk berpesta. Lantai 4 sangat berantakan dengan berbagai
sisa bungkus makanan dan beberapa sisa balon yang sudah diletuskan dan puluhan
petasan. Ah, masa muda.
Kalian jangan salah paham, aku tidak akan
membicarakan kertas dokumen, atau ruang musik disini, aku hanya akan mengajak
kalian ke lantai 3. Ke sebuah kamar dengan hiasan bunga melati putih di gagang
pintunya. Sungguh manis. Bukalah. Yang pertama kali kau rasakan adalah aroma
melati yang menusuk penciumanmu sampai membuatmu membeku sejak pertama kali kau
menginjakkan kaki disana. Perhatikan langkahmu jika berada disana. Kusarankan
jika kau mempunyai rhinitis atau phobia terhadap bunga melati janganlah masuk.
Karena wangi itu semakin kuat jika kau memasuki ruangan itu. Jangan tutup
pintunya, karena gagang pintu dalamnya sudah rusak. Disana ada 1 single bed
tanpa seprai, 1 buffet dan 1 meja belajar ukuran sedang dengan buku-buku
berbahasa Korea dan Jepang. Ada 1 gaun bewarna biru yang tergantung di dalam
lemari jika kau masih berani membukanya. Gaun itu masih sangat bagus, terlihat
belum pernah dipakai. Ada amplop besar bewarna coklat di lemari yang robek
seutuhnya dengan kertas putih disampingnya. Disana tergantung gorden putih dengan
bagian bawah yang sudah robek, terlihat
sengaja dilakukan. Jendela itu terbuka sempurna dengan beberapa helai sakura
yang masih segar jatuh dalam kamar. Terdapat 2 kemeja kotor yang dilempar asal
dikasur. Dan dilantai ada syal merah yang sudah tak layak pakai seakan menarik
kembali memori yang terkubur rapat dalam ruangan itu. Ada banyak burung kertas
tergatung dilangit-langit, tidak semua digantung, ada yang sudah terjatuh
dikasur, diatas lemari, atau dibawah meja. Jika kau hitung semua berjumlah 99,
kenapa tidak genap? Jangan khawatir, jika kau muka laci di meja nakas dekat
dipan itu ada 1 burung kertas yang terbuat dari kertas bewarna biru. Disana ada
tulisan ‘omn’ dengan huruf latin. Aku akan menjelaskan artinya nanti.
Dilantai penuh dengan botol mineral, kosmetik, dan
botol lainnya yang sudah melewati batas pemakaian. Ada 2 tumpuk buku, yang jika
dilihat lebih dekat itu adalah album boyband korea, sedang nge-tren bahkan
sampai sekarang. Yang satu bewarna biru penuh kelopak bunga, yang satu bewarna
putih dengan balon udara bewarna-warni. Diantara kalian mungkin ada yang
familiar. Disampingnya ada 5 kaset yang masih bisa menyala, aneh sekali. Lalu
ada powerbank, charger, dan baterai hp berserakan di atas meja nakas itu.
Awalnya kau tak melihat sama seklai petunjuk. Tapi jika kau memeriksa bantal
yang tersimpan rapi di atas dipan, maka kau akan menemukan 1 kotak kecil yang
dibalut oleh pita bewarna merah. Didalamnya terdapat kalung dengan bandul
bertuliskan huruf ‘Y’ yang berkilauan layaknya emas, dengan berlian kecil yang
menghiasi bagian kalung itu. Mungkin yang pertama kali kau pikirkan adalah
‘bagaimana kalung mahal seperti ini ada dikawasan kumuh ini?’, aku tidak akan
menjawabnya sekarang, itu akan memakan waktu.
Dan jika kau akan keluar dari kamar itu kemudian,
saat kau akan menuju pintu, maka irismu pasti akan tertuju kesalah satu benda,
alasan kenapa aku beritahu untuk berhati-hati saat melangkah. Foto 2 gadis tak
mirip dengan rambut pirang dan rambut kecoklatan yang saling berangkulan dengan
wajah konyol dan cerah seakan tak ada beban hidup terbungkus pigura kecoklatan
jatuh sempurna dengan kaca tersebaran di lantai. Itu bukanlah ketidaksengajaan.
Kau akan mengerti nanti. Miris. Siapapun yang mengetahui cerita itu akan miris,
mengetahui kerasnya kehidupan dunia ini. Dimulai dari cerita panjang tentang
seorang gadis polos yang mencari rumah untuk tempatnya pulang dan kembali.
Kembali, my first story
Halo
Harap anda waspada sebelum membuka blog ini
Kalau begitu mari kita berkenalan
Nama:
Budi
Nama bapak:
Bapak budi
Nama ibu:
Ibu Budi
Nama lengkap:
Budiiiiiiiiiiiiii
Nama beken:
Budi ganteng
Nama pacar:
Pacar Budi
BUDI SUKA DANI, TAPI DANI SUKA KURA-KURA NINJA!!!!!
Mentok?
Oke, sekian dari saya. moga moga kalian bisa temenan sama mahluk tak berdaya ini :)
Harap anda waspada sebelum membuka blog ini
Kalau begitu mari kita berkenalan
Nama:
Budi
Nama bapak:
Bapak budi
Nama ibu:
Ibu Budi
Nama lengkap:
Budiiiiiiiiiiiiii
Nama beken:
Budi ganteng
Nama pacar:
Pacar Budi
BUDI SUKA DANI, TAPI DANI SUKA KURA-KURA NINJA!!!!!
Mentok?
Oke, sekian dari saya. moga moga kalian bisa temenan sama mahluk tak berdaya ini :)
