Archive for Agustus 2016

Saya mengerjakan hal ini hanya untuk tugas, tapi saya sangat senang dengan hal ini. Saya akan menceritakan awal saya masuk ke Bhawara.

Saat itu kira-kira tanggal 13 Juli, 2 tahun yang lalu. Saya diterima di Bhawara, yang ingin tahu apa itu bhawara silahkan cari sendiri. Saya, yang merupakan pindahan dari luar kota, tentu saja ingin memasuki SMP negeri. Salah satu sodara saya menyarankan agar masuk ke Bhawara, karena dia alumni disana, dan berkata, bahwa sekolahnya bagus. Saya waktu itu sangat bahagia bisa masuk Bhawara. Pada saat itu, rasa bahagia saya hanya sebatas karena bisa meringankan sedikit beban orang tua, karena tidak masuk swasta.

Tapi, seiring berbulan-bulan di Bhawara, saya merasa nyaman disana. Guru2 sangat ramah, dan teman2nya sangat bersahabat. Tetapi, saya merasakan bahwa kelas 8 lebih menyenangkan dibanding kelas 7 atau 9. Mungkin, saat kelas 7 kami masih dalam proses beradaptasi, dan kelas 9 sudah harus fokus UN

Terlebih dari semua itu, Bhawara adalah sekolah yang disiplin dan religius. Dengan slogan 'tiada hari tanpa prestasi'

Kesan dan pesan selama menjadi keluarga besar Bhawara

Posted by : Unknown 0 Comments
Kembali


Prolog

Kau tahu?
Dipinggir kota, Seoul, selain kesibukan kota yang maju di Asia itu terdapat salah satu kawasan kumuh tempat daerah dimana kemiskinan yang selalu mencekik orang yang tinggal. Bangunan disana sudah tua dimakan usia. Dan cat putihnya pun sudah banyak terkelupas. Dan jikalaukau menyisir ribuan bangunan itu, maka kau akan mendapati bangunan berlantai 4 bercat putih, bangunan yang sangay besar, sangat jarang ditemukan di daerah tersebut. Letaknya ada di ujung jalan dan dibelakang bangunan tersebut ada pohon sakura yang tingginya hampir bersanding dengan gedung tua itu. Gedung itu adalah bekas apartemen yang tidak lain dan tidak bukan sang pemilik sudah dipanggil yang Maha Kuasa dan tak ada anak yang mewarisinya dan jadilah gendung itu kosong tanpa tulisan ‘kontrak’ ataupun ‘jual’ dengan pintu yang terbuka lebar seakan mengundang bagi yang melihat untuk mendengarkan kisah memilukan dari apartemen itu.
Tak banyak yang tau. Jika kau ingin ceritanya maka kau bisa bertanya pada nenek Jin Ah yang sering menenun 2 meter dari apartemen itu. Kau harus bersabar saat menghadapinya karena bisa-bisa kau meneriakinya sampai satu kota mendengar ucapanmu. Tenanglah, bagaimanapun juga ia takkan mendengarnya. Abaikan nenek Jin Ah dan sekarang akan ku ceritakan kisah apartemen ini.
Apartemen ini dibangun tak lama setelah Ame, sang pemilik berkebangsaan Jepang, ditinggal meninggal suaminya setelah baru 4 bulan ia menikah. Belum mempunyai anak, ia yang tipikal orang disiplin, bekerja keras untuk membangun sebuah apartemen dari tanah peninggalan suaminya. Dahulu, suaminya mempunyai tanah yang cukup luas yang hanya digunakan untuk membuat warung makan yang sangat kecil. Apartemen itu selesai dalam waktu yang cukup lama. Dengan memanfaatkan daerah yang dekat dengan beberapa universitas, apartemen itu disewakan dengan harga yang relatif murah. Jadi, tak heran disana banyak ditempati oleh mahasiswa dan para perantau dengan usia rata-rata 19 tahun. Apartemen itu penuh dalam waktu singkat. Apartemen ini, diberi nama Lily, khusus untuk perempuan karena bagi Ame yang suka kebersihan dan baginya anak laki-laki sangat jorok dan pemalas dan itu akan membuatnya kesulitan.
Menurut nenek Jin Ah, dahulu daerah ini, setelah berbulan-bulan apartemen dibangun, sangat ramai dan banyak sekali rumah makan, toko buku, dan perlengkapan kuliahan lainnya disekitar sini. Daerah ini tak pernah sepi. Tetap hidup sepanjang hari, sampai tengah malam. Tak tahu apa yang menyebabkan keramaian itu. Anak perempuan dengan usia remaja seperti itu dan banyak diantaranya dengan kondisi perantauan mungkin dapat menyebabkan keramaian?
Abaikan tentang itu sekarang mari kuajak untuk masuk kedalam. Masuk dari pintu kita akan disuguhi 2 buah sofa panjang dan 1 buah sofa kecil dengan beberapa kursi yang ditaruh beserakan. Beberapa piring yang belum dibersihkan, serta kardus dan gulungan pita menghiasi meja yang dikelilingi sofa-sofa. Meja itu terdapat bunga plastik bewarna merah yang ditaruh dalam vas bening –yang anehnya masih bening diatas taplak coklat muda. Jalan sedikit lagi, kita akan menemukan meja yang cukup tinggi seperti meja resepsionis dan disana ada setumpuk kertas, mungkin dokumen. Dan jangan coba untuk ingin tahu kertas apa itu, akan kujelaskan alasannya nanti.
1 lantai itu hanya terdiri dari ruang tamu saja, beserta 1 kamar mandi, dan ruang cuci dibelakang. Jika kau naik ke lantai 2, maka kau akan melihat meja makan yang cukup besar, bisa muat 20 orang lebih. Meja makan itu masih rapi, hanya tertutup taplak putih yang sudah merubah warna. Lalu disana ada ruang musik, mungkin sang pemilik, Ame, adalah orang seni. Disana terdapat piano, cello, gitar, dan anak setumpuk buku-buku yang dibiarkan berserakan. Aku sudah pusing melihatnya saat aku masuk ruangan.
Di lantai 3 adalah ruangan penghuni, sebagian besar penghuni, dan sebagian kecil ada di lantai 2. Dan lantai 4 adalah rooftop yang sering digunakan untuk berpesta. Lantai 4 sangat berantakan dengan berbagai sisa bungkus makanan dan beberapa sisa balon yang sudah diletuskan dan puluhan petasan. Ah, masa muda.
Kalian jangan salah paham, aku tidak akan membicarakan kertas dokumen, atau ruang musik disini, aku hanya akan mengajak kalian ke lantai 3. Ke sebuah kamar dengan hiasan bunga melati putih di gagang pintunya. Sungguh manis. Bukalah. Yang pertama kali kau rasakan adalah aroma melati yang menusuk penciumanmu sampai membuatmu membeku sejak pertama kali kau menginjakkan kaki disana. Perhatikan langkahmu jika berada disana. Kusarankan jika kau mempunyai rhinitis atau phobia terhadap bunga melati janganlah masuk. Karena wangi itu semakin kuat jika kau memasuki ruangan itu. Jangan tutup pintunya, karena gagang pintu dalamnya sudah rusak. Disana ada 1 single bed tanpa seprai, 1 buffet dan 1 meja belajar ukuran sedang dengan buku-buku berbahasa Korea dan Jepang. Ada 1 gaun bewarna biru yang tergantung di dalam lemari jika kau masih berani membukanya. Gaun itu masih sangat bagus, terlihat belum pernah dipakai. Ada amplop besar bewarna coklat di lemari yang robek seutuhnya dengan kertas putih disampingnya. Disana tergantung gorden putih dengan bagian  bawah yang sudah robek, terlihat sengaja dilakukan. Jendela itu terbuka sempurna dengan beberapa helai sakura yang masih segar jatuh dalam kamar. Terdapat 2 kemeja kotor yang dilempar asal dikasur. Dan dilantai ada syal merah yang sudah tak layak pakai seakan menarik kembali memori yang terkubur rapat dalam ruangan itu. Ada banyak burung kertas tergatung dilangit-langit, tidak semua digantung, ada yang sudah terjatuh dikasur, diatas lemari, atau dibawah meja. Jika kau hitung semua berjumlah 99, kenapa tidak genap? Jangan khawatir, jika kau muka laci di meja nakas dekat dipan itu ada 1 burung kertas yang terbuat dari kertas bewarna biru. Disana ada tulisan ‘omn’ dengan huruf latin. Aku akan menjelaskan artinya nanti.
Dilantai penuh dengan botol mineral, kosmetik, dan botol lainnya yang sudah melewati batas pemakaian. Ada 2 tumpuk buku, yang jika dilihat lebih dekat itu adalah album boyband korea, sedang nge-tren bahkan sampai sekarang. Yang satu bewarna biru penuh kelopak bunga, yang satu bewarna putih dengan balon udara bewarna-warni. Diantara kalian mungkin ada yang familiar. Disampingnya ada 5 kaset yang masih bisa menyala, aneh sekali. Lalu ada powerbank, charger, dan baterai hp berserakan di atas meja nakas itu. Awalnya kau tak melihat sama seklai petunjuk. Tapi jika kau memeriksa bantal yang tersimpan rapi di atas dipan, maka kau akan menemukan 1 kotak kecil yang dibalut oleh pita bewarna merah. Didalamnya terdapat kalung dengan bandul bertuliskan huruf ‘Y’ yang berkilauan layaknya emas, dengan berlian kecil yang menghiasi bagian kalung itu. Mungkin yang pertama kali kau pikirkan adalah ‘bagaimana kalung mahal seperti ini ada dikawasan kumuh ini?’, aku tidak akan menjawabnya sekarang, itu akan memakan waktu.

Dan jika kau akan keluar dari kamar itu kemudian, saat kau akan menuju pintu, maka irismu pasti akan tertuju kesalah satu benda, alasan kenapa aku beritahu untuk berhati-hati saat melangkah. Foto 2 gadis tak mirip dengan rambut pirang dan rambut kecoklatan yang saling berangkulan dengan wajah konyol dan cerah seakan tak ada beban hidup terbungkus pigura kecoklatan jatuh sempurna dengan kaca tersebaran di lantai. Itu bukanlah ketidaksengajaan. Kau akan mengerti nanti. Miris. Siapapun yang mengetahui cerita itu akan miris, mengetahui kerasnya kehidupan dunia ini. Dimulai dari cerita panjang tentang seorang gadis polos yang mencari rumah untuk tempatnya pulang dan kembali.

Kembali, my first story

Posted by : Unknown 0 Comments
Halo
Harap anda waspada sebelum membuka blog ini

Kalau begitu mari kita berkenalan
Nama:
Budi

Nama bapak:
Bapak budi

Nama ibu:
Ibu Budi

Nama lengkap:
Budiiiiiiiiiiiiii

Nama beken:
Budi ganteng

Nama pacar:
Pacar Budi

BUDI SUKA DANI, TAPI DANI SUKA KURA-KURA NINJA!!!!!

Mentok?

Oke, sekian dari saya. moga moga kalian bisa temenan sama mahluk tak berdaya ini :)
 
Posted by : Unknown 0 Comments

- Copyright © Kertas lipat - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -